ANARKHISME DAN HANTUNYA*

ANARKHISME DAN HANTUNYA*

TABANAN- Barang siapa bisa melihat cukup dini bahwa ideologi Komunisme – abad 19, Lenin, Stalin, Mao, hingga Polpot – itu utopis, maka dia layak kita sebut sebagai peramal masa depan – untuk tidak mengatakan Nabi. Seperti ungkapan JP. Proudhon (Prologue, hal 1): “Mensyaratkan (adanya) Tuhan adalah mengingkari-Nya”!

Sementara, siapa yang masih tetap mempertahankan ide-ide (Marxisme-Lehninisme) hingga saat ini – setelah melihat pengalaman masa suram abad 20 – maka ia adalah seorang apologetik – bahkan fundamentalis. Pertunjukan selfi seorang wakil rakyat yang kini ngaku relegius di pusara Karl Marx menjadi contoh apologetisme ini. Marx melahirkan hantu-hantu, persis sepertiu ketika Manifesto Komunis dipubliksikan di tahun 1848.

Perlu di catat, baik Marx ataupun JP. Proudhon -yang diikuti M. Bakunin dan kaum anarkhis- sama-sama berpikiran materialistis: Ekonomi sebagai basis masyarakat. Menghapuskan kapitalisme, setiap bentuk Agama-Negara dan Negara bourjuis sebagai demokrasi-semu. Namun perbedaan tajam kedua pemikiran orang ini, adalah masalah peran negara dalam masyarakat pos-kapitalisme. Menurut Marx proletariat mesti mengambilalih kekuasaan negara-borjuis, menjadikan instrumen alat perjuangan.

Sebaliknya menurut Proudhon dan kaum anakhis, kapitalisme dan negara mesti dihancurkan – melalui satu kekuatan revolusioner yang sama. Anarkhisme menolak keras satu sosialisme yaitu „Sosialisme ala Manifesto-Komunis, yang ingin memusatkan semua kekuatan masyarakat kedalam sebuah negara, sehingga dengan demikian ini berarti menolak segala bentuk kebebasan“.

Disini terlihat jelas, Anarkhisme mendambakan kebebasan absoulut. Sedangkan kaum Marxis lebih mementingkan kesetaraan dibidang ekonomi. Menurut Marx, negara masih perlu dipertahankan untuk memerintah serta untuk memusatkan alat-alat produksi, pengawasan otoriter, kontrol dan perencanaan dalam proses produksi. Fase peralihan, pasca revolusi ini disebut sebagai „diktator proletariat revolusioner. Akhirnya kebebasan setiap orang menjadi kebebasan semua orang. Dengan kata lain, masyarakat yang baru terbentuk ini, memiliki fungsi transformatif: „Setiap orang bekerja sesuai dengan kemampuannya. Setiap orang memperoleh (barang dan jasa) sesuai dengan kebutuhannya.

Sebaliknya, Anarkhisme yang kemudian dikembangkan Bakunin menuntut, minimalisasin atau bahkan penghapusan prinsip serta peran negara. Bakunin menginginkan struktur masyarakat yang diorganisasi dari bawah keatas. Menghapuskan kepemilikan pribadi orang-orang yang hidup berkelebihan. Disitulah peran lembaga negara. Sebuah ramalan yang kemudian menjadi kenyataan.

Bila kita melihat sistem-negara Komunis, maka kritik Bakunin boleh dibilang profetik (meramal masa depan). Sebab, pemerintah negara-komunis, mendirikan hanya sebuah Bank, untuk membiayai, baik industri-komersial, ataupun sektor pertanian bahkan juga lembaga ilmu-pengetahuan. Sedangkan rakyat dibagi menjadi dua kelompok yakni pekerja di sektor industri dan pekerja disektor pertanian. Kedua-keduanya berada dibawah kendali kelas elit-akademis (insinyur) yang memiliki hak istimewa.

Dari Marx Bakunin, kita bisa melihat dua konsep-pemikiran yang berbeda: Sosialisme-Negara vs Federalisme voluntaris. Bakunin mencintai kebebasan. Menentang ide Marx yang otoriter dan „kelewat“ ilmiah – terutama menyangkut masalah ekonomi. Mengapa? Sebab, menurut Marx, diktatur proletariat akan merubah kesadaran manusia dari kesadaran yang bersifat individual menjadi kesadaran berkarakter kelas. Namun negara diktator proletariat akhirnya lama kelamaan berubah menjadi diktator menindas proletariat. Untuk masalah „yang tak terduga“ ini, tatkala mendekati ajal Lenin kemudian meminta maaf. Cukup aneh, diktator kok minta maaf?

Marx memandang dunia terutama dalam peran sebagai seorang Ilmuwan, fokus terhadap segala sesuatu yang bersifat umum. Sedangkan, sebaliknya Bakunin memiliki cara pandang bak seorang seniman, yang lebih cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandang individual. Marx menggunakan teori-nya sebagai pegangan atas tindakannya. Sedangkan Bakunin berpedoman pada kehidupan dialam bebas: „Kehidupan mendahului pemikiran, bukan sebaliknya. Pemikiran merupakan hanya satu dari sekian fungsi kehidupan dan, bukan akibat dari pemikiran. Kehidupan manusia tidak pernah berkembang dari refleksi abstrak“.

Inilah kritik tajam Anarkhis terhadap kaum Marxis. Dan ternyata benar. Mengapa? Sebab, teori paling rasional atau teori secanggih apapun, tidak akan bisa digunakan untuk mengetahui bentuk masyarakat yang akan datang. Bakunin menolak konsep Marx – diktatur proletariat, peran kader revolusioner, negara-hirarkhis. Karena ini berarti menolak kebebasan individual.

Bakunin menganjurkan desentralisasi, kolektifitas serta konsensus atau mufakat. Kendatipun demikian, baik Marx ataupun Bakunin sama-sama sepakat bahwa revolusi sosial merupakan satu keharusan untuk merubah pola kepemilikan serta terbentuknya masyarakat „tanpa kelas“ yang menjadi tujuan akhir.

Namun, berbeda dengan Bakunin, Marx – dengan teori Komunisme – telah berhasil secara visioner memengaruhi pergerakan kaum buruh. Akan tetapi, dilihat dari perspektif kekinian, Marxisme yang paling banyak menuai kritik. Dimana, Marx tidak melihat bahaya besar bahwa dari Sosialisme yang dia propagandakan itu, juga bisa muncul diktator dan oligarkhi. Seperti kini menjambur di negara paska komunis.

Bakunin sebaliknya, telah menyadari betul bahwa bahaya ini akan muncul dikemudian hari. Ide radikal anarkhistisme-nya Bakunin, berupaya merubah tatanan masyarakat, bila perlu menggunakan kekerasan, bisa saja dianggap sebagai program jangka pendek. Namun berbeda dengan Marx, Bakunin dan para anarkhis bukanlah seorang yang gemar berteori.

Kaum anarkhis tidak memikirkan konsep perjuangan jangka panjang. Dimana Proudhon, atau Bakunin bukan termasuk orang pragmatis. Mereka ingin menghancurkan tatanan masyarakat yang masih berlaku pada zamannya. Sehingga dia pun tak luput dari kritik. Pandangan anti-otoriter dan sikap Bakunin terhadap kawan, atu lawannya mencerminkan watak keras dia mencintai kebebasan.

Pembrontakan radikal melawan segala sesuatu yang menindas dan mengekang serta merendahkan harkat manusia harus terus menerus di golorakan sesuai waktu, tempat dan keadaan. Sikap ideal ini juga merupakan kekuatan seorang Proudhon, Bakunin dan para anarkhis. Dari sinilah kekuatan anarkisme itu lahir, dan bersinar di setiap zaman, yang sudah tentu dengan hantui-hantunya.

(DR I GUSTI NYOMAN ARYANA)

Post Comment